Rabu, 11 November 2009

Analisis Kualitas Air Sumur di Wilayah Yogyakarta

Analisis Kualitas Air Sumur di Wilayah Yogyakarta

Yumechris Amekan, Grace N.I. Sagala, Debby Stevia, Rita Christiani, Novalin N. Titarsole, Stefiane R. Keliwulan

ABSTRAK

Sumur gali menyediakan air yang berasal dari lapisan air tanah yang relatif dekat dari permukaan tanah, yang mudah terkontaminasi oleh rembesan, sehingga berpotensi mengalami penurunan kualitas air. Kontaminasi paling umum adalah karena limpasan air dari sarana pembuangan kotoran manusia atau hewan, yang berasal dari septic tank WC yang kurang permanen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas air sumur di wilayah Yogyakarta pada bulan September 2009 di 9 (Sembilan) lokasi penelitian yaitu, Sleman; Jalan Solo; Klitren dengan metode Cluster Random Sampling. Kualitas air dibandingkan dengan baku mutu Keputusan Gubernur 214/KPTS/1991, PPRI nomor 82 tahun 2001 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990.

Hasil analisis secara insitu dan dan laboratorium di 9 lokasi penelitian pada bulan September 2009 menunjukkan 5 (lima) dari 10 parameter yang diteliti melampaui baku mutu air kelas I PPRI nomor 82 tahun 2001.

Tingginya beberapa parameter diatas mengindikasikan adanya pencemaran di lokasi tersebut. Dari hasil observasi diketahui bahwa sebagian besar penduduk membuang limbah cair domestiknya ke dalam sumur resapan, sehingga air limbah tersebut dapat dengan mudah masuk ke dalam akifer tanah, mengingat jenis tanah di Yogyakarta bersifat porous.

METODE PENELITIAN


Metode sampling dilakukan dengan metode Cluster Random Sampling yaitu teknik sampling yang digunakan untuk menentukkan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber datanya sangat luas (Sugiono, 2006). Teknik sampling ini menggunakan dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan pembagian daerah, tahap berikutnya menentukan sampel air sumur penduduk yang ada di daerah tersebut dengan teknik random sampling.

Wilayah Yogyakarta dibagi menjadi 3 (tiga) daerah yang padat aktivitas penduduknya. Daerah pertama di Sleman pada daerah yang padat pemukiman penduduknya dan berdekatan dengan pertokoan. Daerah kedua di Klitren yang padat penduduknya dan berdekatan dengan laundry. Daerah ketiga di Bausasran yang berdekatan dengan beberapa lokasi sekolah dan pemukiman penduduk.


Dari tiap lokasi diambil sampel air sumur kemudian di komposit menjadi satu, jumlah total sampel yaitu 9 sampel yang akan dianalisis semuanya. Sampel air sumur diambil dengan menggunakan timba dan sebelum timba dinaikkan dilakukan pengadukan terlebih dahulu agar terjadi pencampuran secara merata. Sampel air yang diperoleh dimasukan ke dalam botol aqua (untuk analisis kimia), Erlenmeyer steril (analisis mikroba). Pengujian sampel warna, bau, suhu dan pH dilakukan secara insitu. Pengukuran TDS, TSS, kekeruhan, nitrat dan total Coliform dilakukan di Lab. Ekologi UKDW. Parameter yang diambil ditunjukan pada Tabel 1.

Cara Pemeriksaan Contoh Air

Fair, Geyer dan Okun (1966) dalam Mardani (1989) menyatakan bahwa pada suatu penelitian terhadap kualitas air, tidak semua parameter dari sifat-sifat air harus diteliti. Hal ini sangat tergantung dari tujuan penelitian tersebut. Tetapi lebih ditekankan terhadap parameter yang berhubungan dengan keamanan, penerimaan dan fungsi perairan tersebut. Menurut Dahuri (1993), untuk analisis kualitas air dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung di lokasi (in situ) dan cara pengawetan yang dilakukan di Laboratorium Induk, terutama untuk sifat-sifat air yang dapat bertahan lama dalam kondisi yang sudah diawetkan. Analisis secara in situ dilakukan untuk parameter kualitas air yang sifatnya cepat berubah, sehingga harus saat itu juga langsung dilakukan pengukuran. Parameter-parameter tersebut antara lain pH, suhu, salinitas, kecerahan, bau, rasa, dan warna, dengan alat-alat yang telah disediakan (Dahuri, 1993).

Tabel 1. Parameter kualitas air dan metode analisis serta alat yang digunakan

No

Parameter

Satuan

Metode Analisis

Alat

A

Fisika

1

Suhu

0C

Termometri

Thermometer

2

Kekeruhan

NTU (mg/L)

Spectrofotometri

Spectrophotometer

3

Bau & Rasa

-

Organoleptik

-

4

Warna

Unit Ptco

VCM

Skala Ptco

5

TDS

mg/L

Gravimetri

Timbangan analitik

6

TSS

mg/L

Gravimetri

Timbangan analitik

B

Kimia

7

pH

-

Potensiometri

Indicator universal

8

Nitrat (NO3)

mg/L

Spectrofotometri

Spectrophotometer

C

Mikrobiologi

9

Total Coliform

Sel/100 ml

MPN

Table MPN

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil analisis dari 10 parameter kualitas air sumur yang di ukur terdapat 5 (lima) parameter melampaui baku mutu Air Kelas I PPRI No.82 Tahun 2001 yaitu warna, rasa dan bau, kekeruhan serta Coliform.

Berdasarkan persyaratan Kualitas Air Minum Kelas I PPRI No.82 Tahun 2001, kekeruhan air sumur di semua lokasi pengambilan sampel berada diatas baku mutu yaitu diatas 5 mg/L. Data Hasil Analisis Kualitas Air Sumur Gali pada masing-masing lokasi pengambilan sampel tercantum pada Tabel 2.

Kualitas Air Tanah Ditinjau dari Parameter Fisika

Kekeruhan

Dari hasil analisis menunjukan hampir semua air sumur yang diuji memiliki nilai kekeruhan diatas 5 mg/L. Kekeruhan biasanya disebabkan oleh adanya zat-zat tersuspensi seperti bahan organik dan zat-zat halus lainnya, tetapi pada umumnya sistem pengambilan sampel air yang kurang memenuhi syarat (peralatan dan metode) dapat mengakibatkan kekeruhan yang lebih besar dari nilai seharusnya (ARFANDY, 1983).

Kekeruhan dapat mengganggu kebersihan wadah penampungan air sehingga harus sering dibersihkan (Dewan Riset Nasional, 1994). Ditinjau dari sifat tanah di lokasi tersebut bersifat porous sehingga air dari atas permukaan tanah hasil kegiatan penduduk seperti memasak, mencuci dan kegiatan lainnya yang mengandung bahan organik mudah meresap ke dalam tanah.

Total Dissolved Solid (TDS)

Dari seluruh sampel air sumur yang dianalisis tidak ada sampel yang melebihi baku mutu air kelas I PPRI no.82 tahun 2001 yaitu sebesar 1100 mg/L. TDS merupakan semua komponen yang terlarut baik itu unsur-unsur organic maupun anorganik yang pengukurannya menggunakan satuan PPM (Part Per Million) atau sama dengan miligram per liter (Mg/L). Ditinjau dari kondisi lingkungan, pembuangan limbah rumah tangga dilakukan dengan penyerapan langsung ke dalam tanah.

Nitrat (NO3)

Hasil analisis menunjukan 9 lokasi mengandungan nitrat yang tidak melebihi baku mutu air kelas I. Nitrifikasi, amonifikasi dan denitrifikasi merupakan proses mikrobiologi oleh karena itu sangat dipengaruhi oleh suhu dan aerasi. Proses nitrifikasi juga dipengaruhi oleh kadar oksigen terlarut > 2 mg/L, pH optimum 8-9, bakteri nitrifikasi cenderung menempel pada sedimen atau bahan padatan lain, pertumbuhan bakteri nitrifikasi lebih lambat dari bakteri heterotrof, suhu optimum 20o C-250C (Novotny dan Olem,1994 dalam Effendi, 2003). Menurut hasil wawancara dapat diketahui terjadinya fluktuasi penaikan dan penurunan muka air tanah mengikuti kondisi cuaca pada hampir semua sumur yang diuji. Intensitas curah hujan sebelum bulan April tinggi sehingga menaikan muka air tanah, hal ini mengindikasikan adanya aerasi yang tinggi dan suhu yang rendah pada bulan tersebut sehingga pertumbuhan bakteri nitrifikasi dapat berlangsung optimal sehingga penguraian bahan organik menjadi nitrat tinggi. Bulan April ke bulan selanjutnya intensitas curah hujan menurun sehingga terjadi penurunan muka air tanah dan aerasi menurun sehingga aktifitas bakteri nitrifikasi juga menurun sehingga penguraian bahan organik menjadi nitrat juga berkurang. Tingginya konsentrasi nitrat dalam air sumur juga mengindikasikan tingginya kandungan bahan-bahan organik yang terlarut di dalamnya. Bila ditinjau dari kondisi fisik lingkungannya lokasi sampel merupakan daerah padat penduduknya, jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya sangat berdekatan sehingga kandungan bahan organik dari limbah domestik tinggi maka nitrat yang dihasilkan dari penguraian bahan organik oleh mikroorganisme juga tinggi.

Total Coliform

Total Coliform merupakan indikator bakteri pertama yang digunakan untuk menentukan aman tidaknya air untuk dikonsumsi. Bila coliform dalam air ditemukan dalam jumlah yang tinggi maka kemungkinan adanya bakteri patogenik seperti Giardia dan Cryptosporidium di dalamnya (anonim, 2007). Hasil analisis total Coliform yang melebihi baku mutu terdapat di 1 lokasi sampel. Hal ini terjadi karena pada lokasi tersebut merupakan daerah padat penduduk sehingga jarak sumur dengan pembuangan limbah domestic dan septic tank dekat. Hampir semua penduduk di lokasi penelitian membuang limbah domestik dan septic tanknya dengan meresapkan ke dalam tanah sehingga air tanah mudah terkontaminasi oleh kelompok bakteri Coliform. Sleman dan Bausasran memiliki sanitasi yang lebih baik dan terorganisir dari pada di Kllitren hal ini terlihat dari adanya saluran pembuangan di sepanjang jalan di daerah penelitian dan juga jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya tidak terlalu dekat seperti di 2 lokasi lainnya sehingga Total Coliformnya berada di bawah baku mutu air kelas 1 PPRI no 82 tahun 2001.

Bau, Rasa dan Warna

Hasil analisis menunjukkan 3 sumur berbau dan berasa dan sebagian besar sumur warnanya memiliki nilai yang berada di atas standar baku mutu air bersih yaitu 15 Pt.Co. Hal ini menunjukkan air sumur tersebut tidak memenuhi persyaratan kualitas fisik air minum yang tidak boleh berbau, berasa dan berwarna.Ketentuan mengenai batas maksimum untuk warna didasarkan pada segi estetika (ARFANDY, 1983).

Menurut Alaerts, rasa pada air sumur dapat disebabkan oleh derajat keasamanan (pH) yang rendah sehingga dapat melarutkan Besi, sedangkan bau disebabkan oleh kadar Sulfida yang tinggi. Bau dan warna pada air minum dapat mengurangi selera konsumen, sedangkan warna yang mungkin disebabkan oleh tingginya kadar Besi dapat meninggalkan noda pada pakaian, wadah penampung air dan dinding kamar mandi.

Suhu

Suhu air dipengaruhi oleh kedalaman perairan, komposisi substrat dasar, luas permukaan yang langsung mendapatkan sinar matahari dan tingkat penutupan daerah

pemukiman perairan (LANGENEGGER, 1994). Suhu air pada sumur-sumur gali yang diamati pada umumnya tidak jauh berbeda, berkisar antara 25 – 29oC. Suhu yang tidak sesuai dapat merusak keseimbangan suhu tubuh dan jika suhu lebih dari 350C, air dapat menimbulkan rasa (WIJAYA, 1991).

pH

Derajat keasaman pada sumur yang diteliti berkisar antara 6 – 7. Berdasarkan baku mutu Air Kelas I PPRI No.82 Tahun 2001 pH berkisar antara 6 – 9. Sampel air sumur memenuhi standar kualitas air bersih ini. Nilai derajat keasaman (pH) suatu perairan mencirikan keseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen dalam larutan. pH sangat penting sebagai parameter kualitas air karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan dalam air. Nilai pH suatu perairan memiliki ciri yang khusus, adanya keseimbangan antara asam dan basa dalam air dan yang diukur adalah konsentrasi ion hidrogen. Dengan adanya asam-asam mineral bebas dan asam karbonat menaikkan pH, sementara adanya karbonat, hidroksida dan bikarbonat dapat menaikkan kebasaan air. Ada 2 fungsi dari pH yaitu sebagai faktor pembatas, setiap organisme mempunyai toleransi yang berbeda terhadap pH maksimal, minimal serta optimal dan sebagai indeks keadaan lingkungan.

TSS

TSS adalah cara pengukuran satuan tingkat kebersihan air berdasarkan jumlah partikel yg ada didalamnya (caranya : air tersebut dilewatkan sebuah filter dan kemudian filter itu dikeringkan dan ditimbang, penambahan berat filter itu adalah nilai TSS nya). TSS ini untuk menghitung kebersihan air yg homogen.

TSS (Total Suspended Solid) adalah materi padat seperti pasir, lumpur, tanah maupun logam berat yang tersuspensi di daerah perairan. TSS merupakan salah satu parameter biosik perairan yang dinamikanya mencerminan dinamika perubahan yang terjadi di daratan dan perairan. Analisis spasial TSS di perairan diharapkan dapat berguna untuk kuanti kasi keterkaitan antara ekologi daratan dan lautan. TSS dapat dianggap sebagai indikator awal dalam mengevaluasi kondisi lingkungan pesisir wilayah setempat berkaitan dengan keberlanjutan kegiatan yang sudah dan akan dikembangkan.


SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan

1. Kualitas air sumur gali di wilayah Yogyakarta kurang layak digunakan sebagai baku mutu air minum sebab telah melampaui nilai ambang baku mutu air kelas I yang ditetapkan PPRI No.82 tahun 2001.

Saran

1. Perlunya sistem pengelolaan air limbah domestik yang baik misalnya dengan pembuatan sumur resapan dengan konstuksi sumur resapan yang baik dilengkapi

dengan kerikil, pasir dan ijuk untuk memfiltrasi air buangan sehingga tidak mencemari air sumur.

2. Pembuatan sistem konstruksi septic tank yang baik seperti pembuatan septic tank dengan 2 sekat sehingga air buangannya tidak mencemari air sumur.

3. Pembuatan saluran pembuangan air yang jauh dari sumur baik sumur pribadi maupun sumur tetangga.


Selasa, 10 November 2009

Kultur Jaringan Pada Tanaman

Banyak sekali permasalahan yang dapat diteliti untuk menghasilkan bibit secara in-vitro, dari sekian banyak permasalahan yang harus diteliti dan diperhatikan, komposisi media bagi pertumbuhan eksplan adalah yang paling banyak diteliti dan dicoba oleh pakar kultur jaringan. Media tumbuh pada kultur jaringan sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan serta bibit yang dihasilkannya. Media tumbuh untuk eksplan berisi kualitatif komponen bahan kimia yang hampir sama, hanya agak berbeda dalam besarnya kadar untuk tiap-tiap persenyawaan.

  1. Medium MS (Murashigie and Skoog)

Medium MS merupakan medium untuk induksi kalus yang hampir digunakan untuk semua macam tanaman, terutama tanaman herbaceus. Media ini mempunyai konsentrasi garam-garam mineral yang tinggi dan senyawa N dalam bentuk NO3- dan NH4+. Media ini berguna untuk tempat tumbuh dan menyediakan unsur hara, mineral, asam amino, zat pengatur tumbuh yang dibutuhkan bahan tanam (biji, akar, jaringan tumbuh tanaman) untuk tumbuh.

Pembuataan Medium MS

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan medium MS, yaitu sebagai berikut:

a ) Larutan Stok Makronutrient I dan II

Larutan stok digunakan untuk menghindari ketidaktepatan dan pemborosan waktu karena perlunya pengukuran bahan tertentu dalam jumlah kecil. Jenis-jenis yang termasuk dalam unsur makro (unsur yang dibutuhkan dalam jumlah besar) adalah Nitrogen (N), Kalium (K), Sulfur (S), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg). Unsur NPK adal unsur yang paling mutlak diperlukan oleh tanaman.

Tabel 1. Komposisi Makronutrien yang dibutuhkan Medium MS

Makronutrient (mg/L)

KN3

1.900

NH4NO3

1.650

CaCl.2H2O

440

MgSO4.7H2O

370

KH2PO4

170

b) FeNa2EDTA

Unsur Fe dibutuhkan sedikit lebih banyak daripada unsu mikro lainnya. Didalam kultrur jaringan, pemberian unsur Fe juga berfungsi sebagai penyangga (chelatin agent) yang sangat penting untuk menyangga kestabilan Ph media selama digunakan untuk menumbuhkan jaringan tanaman. Pada tanaman, unsur Fe berfungsi untuk pernafasan dan pembentukan hijau daun.

c) Larutan Stok Mikronutrient

Unsur-unsur yang termasuk didalam unsur mikro (unsur yang dibutuhkan dalam jumlah kecil tetapi harus tersedia) adalah Klor (Cl), Mangan (Mn), Besi (Fe), Tembaga (Cu), Seng (Zn), Bor (B), dan Molibdenum (Mo).

Tabel 2. Komposisi Mikronutrien yang dibutuhkan Medium MS

Mikronutrient (mg/L)

MnSO4.4H2O

22,3

ZnSO4.7H2O

8,6

H3BO3

6,2

KI

0,83

CuSO4.5H2O

0,025

NaMoO4.2H2O

0,25

CoCl2.6H2O

0,025

FeSO4.7H2O

27,8

NaEDTA.2H20

37,3

d) Myoinositol

Penambahan myoinositol pada medium bertujuan untuk membantu diferensiasi dan pertumbuhan sejumlah jaringan. Bila myoinositol diberikan bersama auksin, kinetin, dan vitamin, maka dapat mendorong pertumbuhan jaringan kalus.

e) Vitamin

Vitamin-vitamin yang sering digunakan dalam media kultur jaringan antara lain adalah Tiamin (Vitamin B1), Piridoksin (Vitamin B6), dan Asam Nikotonat. Fungsi Tiamin adalah untuk mempercepat laju pembelahan sel, dan Asam nikotonat berfungsi penting dalam reaksi-reaksi enzimatis. Pemberian vitamin C biasanya bertujuan untuk mencegah terjadinya pencoklatan pada permukaan irisan jaringan.

Tabel 1. Komposisi Vitamin yang dibutuhkan Medium MS

Vitamin (mg/L)

Myoinositol

100

Thiamin HCl

0,1

Nikotonik asid

0,5

Piridoksin HCl

0,5

Glisin

2

f) Sukrosa

Sukrosa sering ditambahkan pada medium sebagai sumber energi yang diperlukan untuk induksi kalus. Sukrosa dengan konsentrasi 2% - 5% merupakan sumber karbon. Penggunaan sukrosa diatas kadar 3% menyebabkan erjadinya penebalan dinding sel. Pengaruh rangsangan dari gula terhadap pertumbuhan ditentukan juga oleh cara sterilisasinya.

g) Hormon (Auksin dan Sitokinin)

Dalam pertumbuhan jaringan, sitokinin berpengaruh terutama terhadap pembelahan sel. Bersama-sama dengan Auksin memberikan pengaruh interaksi erhadap diferensiasi jaringan. Pada pemberian auksin dengan kadar relatif tinggi, diferensiasi kalus cenderung ke arah pembentukan primordia akar. Sedangkan pada pemberian sitokinin dengan kadar yang relatf tinggi, diferensiasi kalu akan cenderung ke arah pembentukan primordia batang atau tunas.

h) Agar

Agar berfungsi sebagai zat pemadat untuk memadatkan semua komponen kimia yang terkandung dalam media dan yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.

Sebelum ditambahkan agar, medium terlebih dahulu diukur derajat keasamannya ( pH ). Sel-sel tanaman yang dikembangkan dengan teknik kultur jaringan mempunyai toleransi pH yang relatif sempita yaitu berkisar antara 5,0 – 6,0. Bila eksplan sudah mulai tumbuh, Ph dalam lingkungan kultur jaringan umumnya akan meningkat apabila nutrient habis terpakai. Dan terakhir adalah sterilisasi dengan autoclaf pada suhu 121 Oc selama 15 menit, untuk menghindari terkontaminasinya medium akibat proses pembuatan.

Pembahasan

Medium yang kami buat ternyata tidak mengalami kontaminasi sama sekali, bahkan tidak terlalu encer maupun tidak terlalu padat.

Medium yang terlalu padat dapat mengakibatkan akar sukar tumbuh, sebab akar-akar sulit untuk menembus ke dalam media. Sedangkan medium yang terlalu encer atau lembek akan menyebabkan kegagalan dalam pekerjaan. Kegagalan dapat berupa tenggelamnya eksplan yang ditanam (eksplan yang berat seperti, wortel, kentang, bawang putih, dan sebagainya). Tenggelamnya eksplan didfalam medium juga dapat menyebabkan busuk karena keadaannya yang sangat lembab dan dapat mengundang jamur ataupun bakteri.

Indrianto, A. 1992. Medium untuk Perkecambahan Biji Anggrek. Dalam : Pelatihan Budidaya Anggrek. Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

George, E.F. and Sherrington, P.D. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture. Exegetis Limited England.

Sriyanti, H. dan Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius : Yogyakarta.